Until the Last Moment
Sudah menjadi satu sifat manusia untuk meniru sesuatu dari sesamanya, baik itu hal baik maupun hal yang jelek. Ada respon yang berbeda terhadap kedua hal tersebut. Orang semangat untuk bertekad mengikuti sesuatu yang baik, dan di lain pihak hal jelek tentu siapapun tidak pernah bertekad untuk mengikutinya. Namun kalau dilihat hasilnya, sebagian besar orang justru mengikuti apa yang tidak pernah ditekadkannya yaitu hal yang jelek dan demikian banyak orang yang putus di tengah jalan ketika mengikuti hal baik yang justru sudah ditekadkannya di depan. Ya tentu saja ga berlebihan apa yang Tuhan katakan, bahwa jalan yang benar itu mendaki lagi sukar, sehingga tidak semua orang bisa mengikutnya.
Satu penyebab utama kegagalan orang dalam mempelajari dan mengikuti sesuatu yang baik adalah kurangnya konsistensi. Ya konsistensi adalah hal yang sangat penting, kalau perlu ‘until the last moment’. Karena kalau orang tidak pernah konsisten dengan apa yang diperjuangkannya, justru akan menimbulkan kerugian yang besar, berjalan setengah, kembali lagi lantas menuju jalan lain, berhenti lagi dan menuju jalan lain yang berbeda, alhasil dia ga akan pernah sampai kepada satu hal yang diharapkannya. Apa yang menjadi kendala orang untuk konsisten?
Teringat masa-masa 20 tahun ke belakang, untuk membentuk body idaman yang atletis, dibuatlah alat fitnes seadanya, berupa pasir dalam karung yang ditarik melewati sebuah pohon menggunakan rantai motor. Saya bersama keenam paman secara bergiliran menarik ulur karung pasir itu sambil berhitung. Ada kesamaan diantara kami, yaitu ga pernah melewati hitungan ke 500. Entah kenapa, setiap lebih dari 400 menuju 500, beban terasa semakin berat untuk ditarik dan semua dari kami melepaskannya. Lantas timbul pemikiran untuk bisa keukeuh menarik beban itu apapun yang terjadi, ya sembari ingin tahu apa yang terjadi kalau hitungan sudah bisa lewat dari 500.
Tidak gampang memang memaksa tenaga yang terkuras, tapi semangat bisa membantu untuk meraih keinginan tersebut. Dengan segala daya, akhirnya nyampe juga di hitungan ke 500. Luar biasa pegelnya tapi kepuasan seakan menghapus semua itu. Dan sedikit hal aneh terjadi di sana, ko setelah lewat 500 ga terasa lagi ya capenya, sehingga hitungan bisa dilanjutkan ke angka 600, 700 bahkan lebih dari 1000. Apa mungkin 500 itu puncaknya, sehingga setelah melewati angka itu justru akan menemukan turunan? Ya mungkin saja, karena sesudah kesusahan itu akan ada kemudahan.
Jadi sedikit analisis permasalahan di atas dengan analogi tersebut, orang kadang tidak berhasil meraih apa yang diinginkannya adalah karena kurangnya usaha untuk melewati ujian kekonsistenannya itu, yang hakekatnya adalah puncak dari gunung rintangan yang menjulang, namun sebuah turunan yang kemudian akan kita dapatkan setelah berhasil melewatinya. Percayalah, sesudah kesusahan itu akan ada kemudahan.









Wah, memang benar tentang rintangan tersebut. Ketika bisa mencapai tujuan ada rasa kepuasan tersendiri. Menarik sekali kata-katanya terutama pada bagian akhirnya “Percayalah, sesudah kesusahan itu akan ada kemudahan.”
he3…. sedikit memadukan ayat dengan pengalaman kang